Tato Tertua Dunia Khas Mentawai Bagian 2

Tato Tertua Dunia Khas Mentawai Bagian 2

4 Jul 2019   |   By Franco Londah   |   134 Views

Coklatkita.com - Dalam penelitian Ady Rosa, selain Mentawai dan Mesir, tato juga terdapat di Siberia (300 SM), Inggris (54 SM), Indian Haida di Amerika, suku-suku di Eskimo, Hawaii dan Kepulauan Marquesas.Budaya rajah ini, juga ditemukan pada suku Rapa Nui di Kepulauan Easter, suku Maori di Selandia Baru, suku Dayak di Kalimantan dan suku Sumba di Sumatera Barat.

Sebagai suku yang masih selaras dengan alam, jika dikaitkan dengan adat serta tradisi kuno Mentawai, tato juga memiliki fungsi sebagai symbol keseimbangan alam. Sebagai suku yang masih percaya dengan keyakinan animisme dan dinamisme – objek seperti batu, hewan, dan tumbuhan wajib diabadikan pada tubuh mereka. Hal ini sebuah kewajiban, karena mereka menganggap semua hal yang ada di bumi memiliki jiwa. Selain daripada fungsi dari tato adalah seni, orang Mentawai menato tubuh mereka sesuai berdasarkan kreativitasnya.

Kedudukan tato diatur sedemikian rupa oleh kepercayaan suku Mentawai yang disebut Arat Sabulungan. Sebuah istilah yang berasal dari kata “Sa” yang artinya koleksi, dan ‘’bulung’’ yang diartikan sebagai daun. Kumpulan daun disusun dalam bentuk lingkaran yang diambil dari bagian kelapa atau pucuk pohon sagu diyakini memiliki kekuatan magis yang disebut Kere atau Ketse. Kemudian, kekuatan magis ini digunakan sebagai media pemujaan kepada Dewa Laut atau Kabagat Koat, Tai Ka-Leleu sang Dewa Hutan dan gunung, serta Tai Ka Manua – Dewa Awan.

Proses pembuatan tato memakan waktu yang lama, terutama pada tahap persiapannya yang bisa sampai berbulan-bulan. Ada sejumlah upacara dan pantangan (punen) yang harus dilewati oleh orang yang ingin ditato. Tak semua orang sanggup melewati tahap ini. Tuan rumah lalu mengadakan pesta dengan menyembelih babi dan ayam. Daging babi dan ayam ini juga sebagai upah yang diberikan untuk sikerei. Untuk menyelenggarakan pesta membuat tato ini saja bisa menghabiskan biaya sekitar lima juta rupiah

Arat Sabulungan biasanya digunakan dalam upacara adat, kelahiran anak, pernikahan, pengobatan, pindah rumah dan tato. Tidak seperti yang dilakukan oleh masyarakat yang datang ke studio tato modern. Masyarakat suku Mentawai menato tubuhnya dalam tiga tahapan. Cangkupan usia anak laki-laki suku Mentawai mendapatkan tato pertamanya ketika mereka menginjak usia 11-12 tahun. Tahapan kedua dilakukan pada usia 18-19 tahun di bagian paha. Selanjutnya, tahapan terakhir pada usia dewasa., lalu Sikerei (dukun) dan Rimata ( Kepala Suku Adat) akan bernegoisasi, untuk penentuan hari serta bulan akan dilaksanakannya proses mentato. Setelah disepakati waktu kapan akan mentato, dipilihlah Sipatiti atau orang yang ahli tato. Keahlian seorang Sipatiti biasanya akan dibayar dengan seekor babi dan sebelumnya akan diadakan sebuah upacara yang dipimpin oleh Sikerei di Puturukat, semacam galeri pribadi milik Sipatiti tersebut.

Sketsa tradisional yang dilakukan Sipatiti, biasanya tubuh anak laki-laki yang ditato akan digambar dengan tongkat. Sketsa atau pola awal gambar pada tubuh kemudian ditusuk dengan jarum yang terbuat dari kayu khusus – kayu karai atau tulang hewan yang sudah ditajamkan. Bagian tubuh anak yang sudah digambar sketsa akan dipukul perlahan dengan tongkat kayu untuk memasukkan pewarna ke dalam lapisan kulit. Karena masih tradisional, suku Mentawai menato tubuhnya dengan menggunakan peralatan sederhana, dan pewarna yang didapatkan dari campuran arang tempurung kelapa dan daun pisang. Pigmen karbon alami yang didapatkan dari serpihan jelaga bisa didapatkan dari kayu atau bambu bakar yang kemudian dicampur dengan air perasan tebu. Selanjutnya, kedua bahan dasar tersebut dicampur di sebuah tempurung kelapa sebagai wadahnya, lalu dibawa ke seorang Sikerei atau dukun adat untuk memimpin ritual.Pewarna yang digunakan berasal dari bahan pewarna alami, dari campuran daun pisang dan arang tempurung kelapa.

Janji Gagak Borneo Penatoan awal atau paypay sakoyuan, itu dilakukan di bagian pangkal lengan. Ketika usianya menginjak dewasa, tatonya dilanjutkan dengan pola durukat di dada, titi takep di tangan, titi rere pada paha dan kaki, titi puso di atas perut, kemudian titi teytey pada pinggang dan punggung.Dalam kesimpulan Ady Rosa, tato Mentawai berhubungan erat dengan budaya dongson di Vietnam. Diduga, dari sinilah orang Mentawai berasal. Dari negeri moyang itu, mereka berlayar ke Samudra Pasifik dan Selandia Baru. Akibatnya, motif serupa ditemui juga pada beberapa suku di Hawaii, Kepulauan Marquesas, suku Rapa Nui di Kepulauan Easter, serta suku Maori di Selandia Baru Di Indonesia, menurut Ady, tradisi tato Mentawai lebih demokratis dibandingkan dengan tato Dayak di Kalimantan. Dalam budaya Dayak, tato menunjukkan status kekayaan seseorang.‘’Makin bertato, makin kaya,’’ katanya. Toh, Baruamas Jabang Balumus, 67 tahun, tokoh adat Dayak dari suku Taman, menuturkan, dalam tato masyarakat Dayak ada aspek lain selain simbol strata sosial. ’’Tato adalah wujud penghormatan kepada leluhur,’’ kata tokoh bernama asli Masuka Djanting itu. Contohnya adalah tradisi tato dalam kebudayaan Dayak Iban dan Dayak Kayan. Di kedua suku itu, menato diyakini sebagai simbol dan sarana untuk mengungkapkan penguasa alam. Tato juga dipercaya mampu menangkal roh jahat, serta mengusir penyakit ataupun roh kematian.Tato sebagai wujud ungkapan kepada Tuhan terkait dengan kosmologi Dayak. Bagi masyarakat Dayak, alam terbagi tiga: atas, tengah dan bawah. Simbol yang mewakili kosmos atas terlihat pada motif tato burung enggang, bulan dan matahari. Dunia tengah, tempat hidup manusia, disimbolkan dengan pohon kehidupan. Sedangkan ular naga adalah motif yang memperlihatkan dunia bawah.Charles Hose, opsir Inggris di Kantor Pelayanan Sipil Sarawak pada 1884, rajin mencatat legenda-legenda yang dipercaya orang Dayak itu. Dalam buku Natural Man, A Record from Borneo terbitan Oxford University Press, 1990, Charles Hose menceritakan janji burung gagak borneo dan burung kuau argus untuk saling menghiasi bulu mereka.Setelah Haid Pertama Dalam legenda itu, gagak berhasil mulus melakukan tugasnya. Sayang, kuau adalah burung bodoh. Karena tak mampu, akhirnya kuau argus meminta burung gagak untuk duduk di atas semangkuk tinta, lalu menggosokkannya ke seluruh tubuh kuau, pemakan bangkai itu. Sejak saat itulah, konon, burung gagak dan burung kuau memiliki warna bulu dan ‘’dandanan’’ seperti sekarang.Secara luas, tato ditemukan di seluruh masyarakat Dayak. Namun, Hose menilai, teknik dan desain tato terbaik dimiliki suku Kayan. Bagi suku ini, penatoan hanya dilakukan bila memenuhi syarat tertentu. Bagi lelaki, proses penatoan dilakukan setelah ia bisa mengayau kepala musuh.

Tradisi tato bagi laki-laki ini perlahan tenggelam sejalan dengan larangan mengayau.Setelah ada pelarangan itu, tato hanya muncul untuk kepentingan estetika. Tradisi tato tak hilang pada kaum Hawa. Kini, mereka menganggap tato sebagai lambang keindahan dan harga diri. Meski masyarakat Dayak tidak mengenal kasta, tedak kayaan, alias perempuan tak bertato, dianggap lebih rendah derajatnya dibandingkan dengan yang bertato.Ada tiga macam tato yang biasa disandang perempuan Dayak Kayan. Antara lain tedak kassa, yang meliputi seluruh kaki dan dipakai setelah dewasa. Lainnya adalah tedak usuu di seluruh tangan, dan tedak hapii di seluruh paha. Di kalangan suku Dayak Kenyah, penatoan dimulai ketika seorang wanita berusia 16 tahun, atau setelah haid pertama.Upacara adat dilakukan di sebuah rumah khusus. Selama penatoan, semua kaum pria dalam rumah tersebut tidak boleh keluar dari rumah. Selain itu, seluruh anggota keluarga juga wajib menjalani berbagai pantangan. Konon, kalau pantangan itu dilanggar, keselamatan orang yang ditato akan terancam. Dulu, agar anak yang ditato tidak bergerak, lesung besar diletakkan di atas tubuhnya.Kalau si anak sampai menangis, tangisan itu harus dilakukan dalam alunan nada yang juga khusus. Di masyarakat Dayak Iban, tato menggambarkan status sosial. Kepala adat, kepala kampung, dan panglima perang menato diri dengan simbol dunia atas. Simbol dunia bawah hanya menghiasi tubuh masyarakat biasa. Motif ini diwariskan turun-temurun untuk menunjukkan garis kekerabatan.

Proses ini sangat kompleks, menyakitkan sekaligus membanggakan bagi pandangan suku Mentawai. Tamat.

Sumber: MoreIndonesia, larskrutak

https://indonesiaproud.wordpress.com/2010/05/19/tato-mentawai-tato-tertua-di-dunia/

https://www.youtube.com/watch?v=L8ehkGRcNNE

https://pesona.travel/keajaiban/350/tato-khas-mentawai-tato-tertua-di-dunia

https://pesonaindonesia.kompas.com/read/2019/04/09/205921227/mengenal-tato-mentawai-seni-rajah-tertua-di-dunia

https://www.yukepo.com/hiburan/indonesiaku/deretan-fakta-menarik-tentang-seni-tato-suku-mentawai-yang-tertua-di-dunia/

https://www.brilio.net/wow/tato-tertua-dunia-berasal-dari-wilayah-di-indonesia-ini-keren-160408k.html#

https://www.kompasiana.com/keretaunto.blogspot.com/5518ce82813311a4689deb10/sejarah-tato-tertua-di-dunia-dari-mentawai
 

 

 

Tags :


You must be logged in to comment.

  • anhammarwilso
    anhammarwilso
    2 days ago