Sembilan Bekal Perang  Tradisional Pejuang Indonesia Melawan Penjajah.

Sembilan Bekal Perang Tradisional Pejuang Indonesia Melawan Penjajah.

17 Sep 2019   |   By Franco Londah   |   216 Views

Di zaman penjajah, tak dipungkiri jika para penduduk hidup berkesusahan. Di tengah minimnya berbagai suplai kebutuhan sehari-hari, terlebih makanan – hal ini tak terkecuali para pahlawan yang sedang bertempur di laga perang.

Bahkan, para penduduk yang berprofesi sebagai petani turut membantu dengan hasil bumi dan cocok tanam yang dilakukan di masa-masa genting tersebut.

Meski sebagian besar hasil bumi dieksploitasi oleh penjajah, sehingga menjadi keharusan bagi penduduk masyarakat ketika itu mencari-cari sumber bahan pangan alternatif untuk bertahan hidup.

Meski sudah 74 tahun merdeka Sobat Coklat, tidak ada salahnya melihat kembali lembaran sejarah kuliner sederhana yang menjadi sumber energi para pahlawan dan penduduk Indonesia kala mempertahankan Indonesia. “Amunisi” terbaik ketika melawan penjajah ini, beberapa diantaranya bahkan masih sering kita jumpai di pasar-pasar tradisional, Meski terkesan sederhana, panganan di bawah ini kerap dijadikan bekal perang melawan serdadu penjajah.

 

1. Nasi Oyek

Nasi berbahan dasar singkong ini, memiliki hubungan bersejarah ketika masa Agresi Militer Belanda II di tahun 1948 atau biasa disebut revolusi fisik paska proklamasi. Sejarah mencatat, Jendral Besar Soedirman, yang saat itu dalam misi gerilya untuk memukul balik tentara Belanda yang menunggai Sekutu – Inggris, sedang kehabisan logistik di tengah hutan sekitar wilayah Kediri, Jawa Timur. Dalam situasi terdesak, Soepardjo rustam mengendap-ngendap masuk ke area pertahanan musuh dan menyelinap ke pemukiman warga. Alhasil, nasi oyek inilah warga Bandung, bahan pangan yang ia kemudian ia bawa untuk pasukannya saat itu.

2. Ubi Kukus

Jika dibandingkan dengan nasi, melansir dari WHO, ubi merupakan makanan pengganti karbohidrat yang sangat baik. Termasuk dalam keluarga umbi-umbian, ubi jalar mengandung vitamin C, B kompleks, serta fosfor yang baik bagi tubuh manusia.  Kandungan ini diteliti sangat bgaus untuk menjaga daya tahan tubuh dan tidak menjadikan mudah lapar bagi yang mengonsumsinya. Meski hanya berbekal bambu runcing dan senapan hasil  rampasan milik penjajah, para pejuang kemerdekaan bangsa ini tetap prima meski menu kuliner bekal perang mereka tetap sederhana.

 

3. Singkong Rebus

Masih satu kelurga dengan ubi di atas, singkong merupakan sumber karbohidrat yang menjadi favorit pada masa perang. Tidak hanya oleh penduduk, para pahlawan menjadikan singkong sebagai santapan sebelum angkat senjata. Meski rasa singkong rebus jauh lebih tawar jika dibandingkan dengan ubi jalar yang manis. Saat itu, belum ada menu singkong dengan olahan aneh seperti saat ini.

4. Pisang Rebus

Tanaman yang satu ini banyak tumbuh di area rural, pedesaan, atau kampung. Tumbuh subur secara liar atau sengaja ditanam langsung di kebun milik warga. Diolah dengan cara direbus, maka dari itu pisang menjadi bekal praktis saat berperang. Selain kepraktisannya, rajin mengonsumsi pisang rebus memiliki bermacam manfaat positif bagi tubuh, diantaranya; melancarkan peredaran darah, serat untuk melancarkan pencernaan, mengisi ulang energi secara cepat, serta menjaga fungsi jantung. 

5. Telur Asin

Bagi Sobat Coklat, olahan yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi. Ya, benar sekali, telur asin menjadi salah satu makanan “istimewa” bagi para pejuang di medan perang. Kandungan gizi yang sangat baik, dipercaya mampu meningkatkan imunitas tubuh. Menstimuli tenaga ekstra yang memang dibutuhkan pejuang saat itu. Walaupun agak langka di masa perang, telur asin mudah sekali untuk dibawa dan dikonsumsi bersama sumber karbohidrat lain seperti nasi, jagung, pisang, ubi maupun singkong. Soal rasa, jangang diragukan lagi Sobat Coklat, sudah pasti lezat, bergizi tinggi dan mengenyangkan perut

6. Janeng

Menu berikutnya berasal dari Tanah Rencong – Aceh di Utara Pulau Sumatera. Janeng adalah sejenis umbi-umbian yang tumbuh subur di hutan-hutan disana. Menurut penuturan para pahlawan dari Aceh dan wilayah Sumatera Utara, saat genting masa perang – buah Janeng dijadikan panganan alternatif yang mengenyangkan. Prosesnya ditumbuk atau dikukus terlebih dahulu, lalu disajikan dengan ditaburi parutan kelapa yang gurih. Meski agak ribet, orang Aceh sangat paham bagaimana mengisi perut sebelum berperang.

7. Nasi Jagung

Banyak ahli kesehatan menyarankan agar kita mengganti nasi yang biasa kita konsumsi dengan nasi jagung karna jauh lebih sehat untuk tubuh. Tak terkecuali di era penjajahan, nasi jagung dikonsumsi untuk tambahan energi saat perang para pahlawan. Di masa sekarang, makanan ini berguna sekali bagi individu yang sedang menjalankan program diet sehat atau para pasien diabetes.

8. Tiwul

Sebelum masa kemerdekaan, masyarakat Indonesia menggunakan singkong untuk menggantikan nasi. Selain direbus, tiwul merupakan makanan yang kerap dikonsumsi pada saat itu.

Banyak orang yang masih bingung soal perbedaan tiwul dan nasi oyek. Tiwul diolah dari tepung singkong, biasanya diberi gula merah sehingga manis rasanya.

Sedangkan nasi oyek tak memakai campuran apa-apa dan biasanya disajikan bersama lauk pauk atau pun sayuran. Mirip seperti nasi jagung.

Meski sederhana, nyatanya makanan-makanan itu membantu para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

9. Leughok

Meski kini nama leughok jadi kurang familiar, tapi makanan yang terbuat dari remasan pisang kepok dan sagu tersebut merupakan bekal yang kerap dibawa pejuang Aceh seperti Janeng -  Leughok biasanya disajikan dengan parutan kelapa dan taburan gula. Tidak hanya nikmat warga Bandung, makanan ini mengenyangkan dan mudah sekali pengolahannya.

Nah, dari sembilan makanan di atas, mana saja yang sudah pernah Sobat Coklat cicipi? 

Dari berbagai sumber

Tags :


You must be logged in to comment.