Masa ter-Gelap Lengger Lanang

Masa ter-Gelap Lengger Lanang

10 Dec 2018   |   By Franco Londah   |   216 Views

Coklatkita.com - Seluruh keluarga, kerabat dan tetangga yang tidak tahu menahu kepergian Dariah yang tiba-tiba menjadi berita yang akhirnya Dariah menujukkan batang hidungnya, ia menceritakan ihwal mengapa ia pergi tanpa pamit, dan pengalaman mistis hingga kembali pulang ke rumah. Setelah bercerita, keluarga dan kerabat menanggapi dengan positif semua kisahnya. Anggapan keluarga dan kerabat, semua pengalaman yang dialami oleh Dariah, merupakan bagian daripada proses seorang Dariah untuk (dipilih oleh sang Pencipta Alam Raya) menjadi seorang lengger. Beberapa orang yang terampil dalam bermain gamelan kemudian dikumpulkan untuk mulai berlatih bersama Dariah. Semenjak saat itulah, Dariah menjadi seorang lengger. Semua gerakan yang dilakukan oleh Dariah seakan-akan alamiah dan natural. Dariah seperti "terlahir kembali" menjadi seorang penari lengger seutuhnya. Menjiwai.



Sejak resmi me-lengger sejak tahun 1944-1945, kejayaan lengger sempat bertahan 20 tahun hingga meletusnya peristiwa paling 'gelap' dalam sejarah Indonesia,  30 September tahun 1965.
Kesenian rakyat saat itu berhubungan erat dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat yang didirikan oleh Njoto, salat satu tokoh muda PKI dengan semboyan; Seni Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat), meski banyak fakta beredar saat ini, bahwa Lekra sendiri  bukan bagian resmi dari afiliasi kiri  atau komunis. Beberapa seniman nya memang bergerak menjadi anggota tetap dan terang-terang  berpaham sosialis komunis. tetapi Lekra jelas bukan partai komunis maupun kelompok sosial(is).  Kembali ke kisah Dariah, rezim orde baru mengklaim sepihak bahwa kelompok-kelompok seni tradisional merupakan bagian dari kelompok atau partai sosial. Dekat dengan komunisme. Imbasnya banyak seniman tradisional(tidak sedikit pula kontemporer) populer saat itu yang, ditangkap, lalu 'dihilangkan' tidak jelas statusnya higga saat ini. saat lengger kemudia dilarang pentasnya dan kegiatannya oleh pemerintah orde baru melalui anjing-anjing penjaganya. Dariah sempat banting stir menjadi perias pengantin atau biasa disebut dukun manten, Dariah terbilang beruntung kala itu tidak ikut 'dilenyapkan' dari bumi Nusantara. Pekerjaan yang dilakoninya hingga berpulangnya sang maestro.

Hembusan angin demokrasi menjadi masa baik dan masa buruk bagi Dariah dan penari lengger lain. Terjungkalnya pemimpin orde baru presiden 'senyum' Suharto tahun 1998, menandai pembangunan kembali berkesenian, berkebudayaan, literasi Indonesia. Tidak hanya lingkup seni, tetapi semua lini maupun disiplin ilmu yang dulu dibredel atau dilarang, bergaung kembali penuh sukacita atau hal baru kemudian muncul ke permukaan. Meringkas waktu  ke tahun 2011, Dariah mendapat pengakuaan ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi anugrah Maestro Seniman Tradisional. sebuah pencapaian yang harus dibayar dengan perjalanan berliku, lebih dari itu demi kecintaannya terhadap seni yang begitu besar, belaiu lebih memilih hidup mejadi perempuan walaupun terlahir sebagai laki-laki. Kita mengerti, bahwasanya Indonesia merupakan negeri penjujung tinggi nilai patriarki, sehingga status perempuan selalu menjadi nomor dua di bawah laki-laki. Lalu apa jadinya jika laki-laki tersebut  memilih menjadi perempuan? Stereotip dan stigma selalu menghantui sepanjang umur hidup sang maestro. Bukan perihal mudah ketika mayoritas penduduk Indonesia memeluk keyakinan yang sangat keras melarang laki-laki menjadi perempuan. Tidak peduli itu atas dasar seni, budaya, dan cinta.Apalagi soal orientasi seksual - tidak boleh saja pokoknya, titik!.

Kini, bermunculan para penerus lengger lanang. Meski kontroversi selalu menghinggapi kebebasan mereka dalam berkesenian. Namanya Agus - nama panggungnya Agnes, ia mulai naik daun saat inni di kalangan penikmat lengger lanang dan para penarinya. “Alm. Mbok Dariah merupakan inspirasi saya sehingga saya ingin menjadi penari lengger lanang,” ungkap Agus atau Agnes. Hal senada turut disampaikan seniman senior serba bisa asal Jogjakarta, Didik 'Nini thowok' yang mengakui dirinya kagum dengan totalitas berkesenian penari lengger lanang, Alm. Dariah. " Totalisnya  masih terasa, usia senja tidak menyurutkan darah seni dalam dirinya. saya salut dengan Mbok Dariah," kata Didik.

Berdasarkan pengalamannya menari lengger di Universitas Yale di New Haven, Amerika Serikat pada 20 September 2012 hingga 4 Oktober 2012- Didik berjanji akan mendatangi Almarhum Dariah untuk membuatkannya film dokumenter. Didik mendokumentasikan sosok Darriah mendetil. Mulai dari temapt tinggalnya, Sungai Serayu, Pendopo Sipanji, dan merekam aktifitas Dariah di sejumlah tempat keramat yang pernah digunakan untuk ritus atau ritual oleh Dariah. Didik melakukan hal itu bukan semata-mata karna keinginan atau tuntutn sejumlah pihak. Didik pergi ke Banyumas, adalah hasil dari perenungannya akan 'Serat Chentini' (lihat artikel bag. satu). Sebuah kisa penggambaran panjang mendetil tiga orang ahli sastra kuno mengenai kehidupna sehari-hari masyrakat Jawa, dan hidupnya lengger masa lalu. Melalui manuskrip kuno tersebut, tertulis juga beragam kisah ragamnya kesenenian yang diperankan oleh laki-laki meski saat ini didominasi oleh perempuan, lengkap dengan latar belakang sejarahnya.

Masih merujuk kata Didik, Dariah merupakan representasi kesenian transgender yang sudah tercipta sejak zaman Sultan Hamengkubuwono VII. Pada masa itu, kesenian tari Golek (mayoritas) diperankan penarinya oleh kaum laki-laki.  Tentang transgender  kata dia, jelas tertulis pada Serat Chentini buku kelima. Dalam gulungan tersebut diceritakan tentang sosok Cebolang yang menari lengger dengan mendandani dirinya menjadi perempuan.

Senada dengan ucapan sang maestro, menurut Didik tari lengger merupakan wuju kesenian tradisional yang adiluhung. Untuk  menjadi penari lengger seutuhnya, jiwa dan raga seperti Alm Dariah meruju kata Didik - membutuhkan keseriusan dan keikhlasan. Tidak main-main bahkan sekedar mahir menari saja. Proses ritual, menjiwai, dan menyatu dengan karakter sebagai penari tercurahkan hingga kehidupan sehari-hari butuh ketelatennan serta kerja keras dengan beragam resiko yang ada entah dikucilkan atau menjadi bahan omongan. Fenomena saat ini yang muncul, banyak para penari lengger yang baru meninggalkan proses ritual yang sebenarnya adalah pondasi utam untuk me-lengger. Banyak penari menjadi penari instan. Padahal kenyataannya, totalitas dalam me-lengger harus diperoleh melalui ritus yang berat. Selain daripada harus puasa, calon penari harus pergi dan mandi ke tujuh sumur yang berbeda.

"(para) Penari juga wajib harus bersemedi di tempat khusu lengger," tambah Didik. Almarhum Dariah sendiri jujur merasa senang sekaligus bahagia dengan komitmen Didik terhadapa kelestarian kesenian lengger. Dikutip dari liputan.6.com, Almarhum Dariah sempat berujar dengan ciri khas gaya bahasa Banyumasan, " Saya langsung klop saat ketemu Didik." Almarhum Dariah sempat bermimpi bertemu dengan Didik, Almarhum sempat menyampaikan keinginnanya untuk dapat tampil di Keraton Yogyakart untuk menari lengger.

Bersambung ke bagian empat

dari berbagai Sumber; liputan6.com, salihara.org., Europalia, Merdeka.com, Investigasi Tempo - Tempo.co

Sumber Foto :

dkdkebumen.blogspot.com, apasaja3154.blogspot.com, YouTube, alveroz.blogspot.com, SatelitPost, awalpekan.blogspot.com, salihara.org., Europalia, Merdeka.com, Investigasi Tempo - Tempo.co, kompasiana.com, jateng.tribunnews.com, pppbanyumas.blogspot.com

Tags :


You must be logged in to comment.