Lengger Lanang ; Lelaki Ayu Bumi Banyumas dalam Serat Chentini

Lengger Lanang ; Lelaki Ayu Bumi Banyumas dalam Serat Chentini

29 Nov 2018   |   By Franco Londah   |   152 Views

20160225-Dariah Penari Lengger
Dariah maestro Lengger Lanang dari Banyumas (Liputan6.com/Aris Andrianto)

Isu LGBT memang sedang hangat diperbincangkan, namun dalam lingkung seni di Banyumas - soal crossgender / transgender menjadi daya tarik tersendiri. Sisi unik muncul terutama dari kesenian tari dan pertunjukkan Lengger Lanang. Tarian khas bumi Banyumas ini dimainkan oleh laki-laki yang mengubah dirinya secara keselurahan menjadi perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Lengger Lanang adalah salah satu figur khas kebudayaan Banyumas. Berorientasi kepada kesenian rakyat, Lengger Lanang lahir di luar ekses peradaban negaragung. Tiap penari wajib  laki-laki dan berdandan ala perempuan, menyihir ratusan penonton dengan keluwesan mereka menari dan nembang

Menarik sedikit beberapa waktu ke masa awal kemunculan transgender di daerah Banyumas, sejarah mencatat sejak abad ke-18 lah keberadaan mereka terekam. dengan baik kala itu Mangkunegaran VII memerintahkan tiga sastrawan terpilihnya untuk berkeliling pulau Jawa. Ketiganya diperintah untuk menuliskan kehidupan sehari-hari penduduk Jawa saat itu.

Totalitasnya membuat Dariah yang nama aslinya Sadam, berperilaku seperti perempuan. Mereka bertiga singgah di Banyumas dan bersinggungan dengan kesenian Lengger Lanang yang belakangan oleh para peneliti artefak dan manuskrip kuno, tertulis dengan jelas dalam 'Sert Chentini'. Serat Centhini, atau juga disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga, merupakan salah satu karya sastra terbesar (12 Volume) dalam kesusastraan Jawa Baru. Serat Centhini menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa, agar tak punah dan tetap lestari sepanjang waktu tak lekang tergerus jaman.

Ratusan tahun berlalu, Alm Dariah adalah salah seorang maestro penari lengger. Beliau adalah penari lengger terakhir yang masih menjalankan ritual komplit agar layak disebut sebagai penari lengger. Totalitas Alm Dariah yang bernama asli Sadam, memiliki laku layaknya perempuan seutuhnya. Menjiwai peran seorang penari dan membawa serta dalam kehidupan sehari-hari beliau sampai akhir hayatnya hari Selasa bulan Februari tanggal 12  tahun 2018 lalu pada usia  97 tahun di kediamannya di Banyumas. Sewaktu beliau masih  aktif menari, gerakannya sungguhlah luwes dan gemulai. Ditambah energi yang terpancarkan dari kerendahan hati seorang penari lengger begitu baik beliau jaga. . Tutur kata yang halus, dan sikap yang tak jumawa menjadi kesan tersendiri terutama bagi yang kenal dekat dengan beliau semasa hidup dan masih me-lengger.

Sosok Almarhum Dariah perwujudan simbol militansi berkesenian rakyat yang kini tergusur oleh perkembangan budaya modern, statusnya nyaris punah. Ia menganggap, Lengger Lanang merupakan kesenian adiluhung penuh makna filosofis kehidupan manusia. Dilansir dari Liputan6,com, Kamis (25/2), "Saya pakai make up seadanya saja, tidak berlebihan," ujar Alm Dariah, sang maestro Lengger Lanang Banyumas dari desa Somakaton Kecamatan Somagede.

Di sebuah Petilasan bernama Manggihsari di desa itu, Alm Dariah bersama tiga orang penari muda lengger lanang lainnnya didapuk menjadi lengger. Di petilasan itulah, Alm Dariah selama berpuluh tahun melakukan napak tilas ritual untuk menjadi seorang pennari Lengger.


Dariah meastro Lengger Lanang dari Banyumas dan para penari muda (Liputan6.com/Aris Andrianto)

Menurut tetua adat Desa Somakaton, Jaya Martono - penntas mini napak tilas digelar sebagai ajakan kepada masyarakat agar kembali berpikir jernih. Tidak ada tata cahay berlebihan, tidak pula riging panggung besar. Panggung sangat sederhana,  bahkan tanpa atap. Meskipun begitu, teduhnya panggung terlindung dari atap alami rerimbunan pohon beringin yang berdiri kokoh tepat di belakang petilasan. Antusiasme penonton berjubel di dekat panggung. Tak ada sekat. Interaksi penari dan penonton menjadi lebih intim.

"Disini disediakan takir atau makanan yang dibungkus daun pisang untuk (nanti setelah acara selesai) dimakan bersama," kata Jaya. Takir sendiri adalah akronim dari tata pikir atau menata pikiran. Masih menurut Jaya, dewasa ini banyak agama dan tokoh nya terutama, yang menganggp dirinya yang paling benar dan menjelek-jelekkan agama lain.
Yusmanto, budayawan lokal Banyumas menambahkan, untuk menjadi penari lengger yang sebenarnya memang harus mengikuti ritual khusus. "Jadi tidak bisa instan," katanya.
Seperti yang diungkapkan oleh Astuti, penari lengger asal Cilacap yang ikut menari bersama Dariah.

Seorang budayawan lokal Banyumas - Yusmanto menambahkan, wajib hukumnya bagi calon penari lengger untuk mengikuti sebuah ritual khusus. Ada proses dan itu tidak mudah ujarnya menegaskan. "Jadi tidak bisa instan, otomatis jadi penari," pungkasnya. Hal serupa diungkapkan oleh Astuti, penari lengger asal Cilacap yang ikut menari bersama Alm Dariah.

"Tiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon harus tidur di depan pintu," ujarnya.
Kewajiban lain yang harus dilakukan, berpuasa mutih alias tidak memakan apapun kecuali nasi putih sekepal dalam sehari. Calon penari pun diwajibkan bertirakat agar mampu menjiwai  status nya kelak sebagapenari lengger dan diterima oleh khalayak.

Ritus menjadi penari Lengger inilah yang ingin disampaikan kembali oleh Alm Dariah kepada generasi penerusnya. Alm Dariah  merupakan satu-satunya lengger lanang generasi pra kemerdekaan yang konsisten melestarikan untuk menari sampai berpulangnya beliau.

bersambung ke bagian kedua

disadur dari tulisan  Aris Andrianto di portal berita Liputan.6.com

oleh Franco Londah

Foto : Istimewa

Tags :


You must be logged in to comment.