Kisah Sejarah  : Tuan Dertik, Ahli Linguistik Anti Kolonial Abad 19

Kisah Sejarah : Tuan Dertik, Ahli Linguistik Anti Kolonial Abad 19

18 Sep 2018   |   By Franco Londah   |   172 Views

 

Lima puluh satu tahun mundur kebelakang, jauh sebelum teks Proklamasi dibacakan oleh Bung Karno tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 di teras rumah Laksamana Maeda. Atas desakan para pemuda di Rengasdengklok. Seorang eksentrik ahli linguistik (ahli Bahasa – Bahasa) penentang penindasan Belanda terhadap rakyat (masih bernama) Hindia– Belanda saat itu, menghembuskan nafas terakhirnya di sebuah Rumah Sakit Militer di Surabaya pada tanggal 17 Agustus 1894.

Beliau adalah Hermann Neubronner Van der Tuuk, atau biasa dipanggil oleh mayoritas masyarakat Buleleng – Singaraja, Bali Utara saatitu, Tuan Dertik. Tingkahnya cukup “aneh” untuk ukuran orang tua, namun “dicintai’’. Dirinya adalah seorang mantan misionaris yang berbalik menentang kebijakan Gereja, ia memilih keluar dari lingkaran para misionaris Kristen (Belanda) yang mengirimnya ke Bali.

Bahasa - Bahasa dan Dua Hukum Tuan Dertiik

Bahasa menjadi keahliannya. Menyusun kamusdari Bahasa Melayu, Bahasa Jawa, Bahasa Toba, Bahasa Lampung, dan Bahasa Bali. Untuk pertama kalinya, sebuah buku tata Bahasa Toba berhasil disusunnya. Misi pertama yang diembannya, dalam rangka penyebarluasan Bibel / Injil kedalam bahasa - Bahasa tersebut. Tercatat juga dalam sejarah, ialah orang yang pertama kali menerjemahkan Bibel / Injil kedalam Bahasa Melayu. Kamus tribahasa  Kawi – Bali – Belanda yang terkenal dan mendunia di kalangan pustakawan dan ahli Bahasa, berjudul Magnum Opus; yang baru terbit sepeninggalnya beliau.

Warisan tuan Dertiik yang lain, adalah munculnya dua hokum peralihan konsonan dalam Bahasa – Bahasa Austronesia, yang pertama menyoal pergeseran antara bunyi /r/, /g/, dan /h/, sedangkan yang kedua adalah mengenai pergeseran konsonan antara /r/, /d/, dan /l/.

Sejarah mencatat, Van der Tuuk yang memiliki nama keluarga Neubronner dari pihak ibu – lahir dari pasangan ayah seorang pengacara Belanda dan Ibu peranakan Indo - Jerman di Malaka (sekarang bagian dari Malaysia) ketika pulau tersebut masih dalam penguasaan colonial Hindia - Belanda. Pada tahun 1925, dimana Traktat London (1924) diberlakukan pada tahun 1925, keluarganya hijrah ke Surabaya, Jawa Timur.  Van Der tuuk muda sudah memperlihatkan otak yang encer, selesai menempuh pendidikan dasar, di umur yang masih sangat muda (12 tahun kala itu), dilanjutkan belajar ke Belanda. Dalam waktu empat tahun, pada usianya yang ke – 16, lulus ujian penerimaan di Universitas Groningen dengan pilihan ilmu Hukum. Tetapi minatnya berkata lain, maka dipilihlah linguistic atau ilmu Bahasa pada tahun 1845 ke Universitas Leiden, dengan jurusan Bahasa Arab dan Persia di bawah mentor Tuan W Juynboll, yang reputasinya sebagai ahli Kearaban (Bahasa Semit) terkenal pada masanya. Selain itu, Tuan Der kiit, mulai mendalami Bahasa Sanskrit dan Melayu di waktu yang bersamaan.

Di penghujung akhir perjalanan hidupnya, Tuan Dertik tua, hidup menyendiri di Singaraja, Bali. Dirinya sering digunjingkan oleh kolega-koleganya perihal gaya hidupnya yang eksentrik nan flamboyan.

Pilihannya, Ikut membaur dengan masyarakat Singaraja, selalu mengenakan sarung dan jarang memakai baju. Dari pada harus “beramah-tamah”” ikut acara Teh Sore atau jamuan makan malam mewah dengan kaumnya, yang adalah bangsa Belanda. Ia adalah ‘”gambaran lain”” dari orang Belanda masa kolonial. Bersabahat baik dengan para seniman tradisional dan para sastrawan kidung, tembang dan kakawin di Bali.

Ambisinya begitu besar untuk menulis kamus Kawi – Bali ,terdorong akan hal itu sampai suatu ketika, Tuan Dertik menulis surat kepada kawannya. Kira-kira Agustus tahun 1888, isinya begini, “…berserakan bentukan kata – kata, cukup untuk membuatmu gila; bahkan aku ‘setengah gila’ karna sengsara” 

Dilansir dari laman Wikipedia, dalam buku ”Mirror of the Indies”, Rob Nieuwehuys mengutip komentar seorang pendeta Bali (pedanda) yang sangat berpengaruh ketika itu, “Hanya ada satu orang di seluruh penjuru Bali yang tahu dan paham bahasa Bali, orang itu adalah Tuan Dertik (Mr. Van der Tuuk).”

Ihwal kedatangannya kepulau Dewata, kembali kemisinya sebagai seorang misionaris kiriman Gereja Belanda. Biaya hidup pun ditanggung oleh pihak Gereja. Sebagai ahli dalam bidang lingusitik (ahli Bahasa – Bahasa), beliau juga sempat bekerja di Medan, Sumatera Utara. Sebagai peneliti dan ahli Bahasa Batak, kamus Batak dan terjemahan Injiliarangkumkan.

(Konon katanya, di masa – masa sulit ini terjadi, H. N Van der Tuuk yang sejak 1870 (beberapa ahli sejarah mengatakan sejak tahun 1850-an), memutuskan menetap di Singaraja (Buleleng), Bali Utara. Di sebuah rumah bamboo sederhana. Cerita lain mengatakan, beliau sering berjalan di sekitaran pantai Singaraja, dengan tungked (tongkat untuk membantu berjalan), berpentol besar pada bagian ujung kepalanya. Siapa saja yang mengganggu, menertawakan gerak – gerik,atau cara berjalan beliau; tak segan akan dipukulnya dengan tungked tersebut.

Dari kisah inspiratifnya, banyak hal baik yang bias kita ambil. Beberapa diantaranya adalah Tuan Dertik, (meski) statusnya sebagai orang yang kontroversial, namun sekaligus dicintai. Van der Tuuk ikut menyebarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dan termasuk orang yang berani menentang tata cara berpakaian ala Belanda semua yang berbau kolonialisme, penentang segala hal tabu dalam berbahasa, moralitas, masyarakat dan ilmu pengetahuan.

 

Sumber :

Dr, Kees Groeneboer. Dari Radja Toek Sampai Goesti Dertik: Herman Neubronner van der Tuuk Sebagai Linguis Lapangan di Indonesia pada abad Kesembilan Belas. Jurnal

P, Swantoro. 2002. Dari buku kebuku, sambung menyambung menjadi satu. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Id.Wikipedia.org

Foto :Toga Pardede's Blog - WordPress.com& Id.Wikipedia.org

 

Tags :


You must be logged in to comment.