Bercermin diri dalam Dendangan Alat Musik Saluang

Bercermin diri dalam Dendangan Alat Musik Saluang

24 Oct 2018   |   By Franco Londah   |   186 Views

Coklatkita.com - Selain urusan kuliner dengan Rendang nya yang diakui dunia, Sumatera Barat tepatnya di daerah Minangkabau memiliki sisi lain yang unik. Menjadi bagian dari kearifan lokal budaya asli Indonesia dan unsur adat istiadat yang kental. Sisi lain tersebut adalah alat musik tradisional Saluang. Jenis instrumen atau alat musik yang dimainkan dengan cara di tiup (berjenis bunyi Aerofon, yaitu bunyi yang berasal dari hembusan angin) ini berbahan dasar bambu, hampir mirip dengan seruling /suling yang mana alat musik tiup ini terbuat dari bambu tipis atau talang (Schizostachyum brachycladum Kurz). Konon untuk memainkannya diperlukan mantera khusus yang bertujuan untuk menghipnotis penontonnya. Nama dari mantera itu, Pitunang Nabi Daud. Dikutip dari laman wikipedia, isi dari mantera itu kira-kira berbunyi seperti ini;“Aku mala pehan pituang Nabi Daud, buruang tabang tatagun-tagun, aiama iliatahanti-hanti, takaju ikbido dari di dalam saru gomandanga bunyi saluang ambo, kunun lahan aksi dang manusia..........”.

 

Cerita turun temurun lain mengatakan, Saluang pertama kali berasal dari kepercayaan Orang Minangkabau bahwa bahan yang paling bagus untuk dibuat saluang berasal dari talang untuk jemuran kain atau talang yang ditemukan hanyut di sungai. Pertama kali kemunculan alat musik Saluang adalah dinagari Singgalang Kabupaten Tanah Datar oleh salah seorang penduduk nagari Singgalang yang bernama ‘si Kalam’.Pada saat menemukan alat musik ini berawal dari ide membuat alat bunyi-bunyian sebagai alat untuk mengungkapkan isi perasaan untuk mengisi waktu – waktu senggang.

Keragaman gaya meniup dan memainkan saluang pada tiap-tiap daerah atau nagari dalam bahasa Minangkabau mengembangkan cara meniup Seluang yang berbeda, sehingga setiap nagari memiliki ciri khas tersendiri. Sebagai contoh, nagari Singgalang, Pariaman, Solok Salayo, Koto Tuo, Suayan dan Pauah. Bagi para pemula, ciri khas nagari Singgalang akan terasa sulit dimainkan, dan kalaupun tetap dimainkan hanya pada bagian awal lagu saja. Sedangkan ciri khas yang terkesan ‘sedih’ bunyinya adalah Ratok Solok yang berasal dari nagari Solok.

Selain daripada itu terkait dengan jenisnya, terdapat Saluang dangdut, Saluang Minang, Saluang klasik. Masing – masing mempunyai ciri khas dan keunikannya sendiri. Yang populer saat ini adalah Saluang dangdut yang masuk ke dalam klasifikasi musik kontemporer  dan seiring trennya musik dangdut di Indonesia.

Alat musik Saluang, pembuatannya lebih sederhana dari seruling atau suling. Cukup melubangi talang dengan empat lubang saja, dengan diameter 3-4cm dan panjang kira-kira 40-60 cm.  Kegunaan dari talang adalah sebagai wadah untuk membuat lamang (lemang), lagi-lagi menjadi salah satu makanan tradisional yang populer di nagari Minang.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah proses pembuatannya yakni harus terlebih dahulu menentukan bagian atas dan bawahnya untuk menentukan posisi lubang kelak. Apabila Saluang terbuat dari bambu, bagian atas Saluang merupakan bagian bawah ruas bambu. Sedangkan bagian atas Saluang, kemudian diserut dan dibentuk meruncing sekitar 45 derajat sesuaikan dengan ketebalan bambu sertadi sesuaikan agar nyaman dan mudah mengatur posisi mulut dengan posisi ujungSaluangberada pada samping bibir.

Berikutnya, buat empat lubang yang berukuran 2/3 dari panjang bambu lalu diukur dari bagian pucuk atas nya, dan untuk lubang kedua begitupun lubang selanjutnya. Jarak lubang adalah setengah lingkaran bambu, sedangkan besar lubang harus presisi dengan garis tengah 0,5 cm agar nantinya ketika dimainkan, mampu menghasilkan suara yang jernih dan bagus.Pada bagian pangkalnya terdapat empat buah lubang nada, pada bagian ujung saluang terdapat suai sebagai bagian meniup untuk mengeluarkan suara merdunya.

Keunikan lain, terletak pada teknik para pemain saluang dalam memainkan nya. Pemain Saluang akan meniup dan menarik napas serentak dalam satu waktu secara bersamaan, sehingga peniupnya dapat memainkan alat musik tersebut dari awal hingga akhir lagu tanpa terputus(circular breathing). Cara pernapasan ini dikembangkan dengan latihan konsisten. Sehingga para pemainnya terlihat tidak keletihan sama sekali atau kehabisan nafas saat meniupnya. Nama dari teknik yakni, Manyisiahan Angok yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah menyisihkan napas.

 

Layaknya seruling, cara memegang dan memainkannya pun sama dengan mengatur posisi jari-jari tangan berfungsi untuk menutup lubangnya. Sehingga menghasilkan nada yang khas dari alat musik Saluang.Pemain saluang legendaries bernama Idris Sutan Sati dengan penyanyinya atau pendendangnya, Syamsimar. Dalam pementasannya, bisa lebih dari satu orang yang memainkan, atau hanya satu orang saja.

Acara- acara adat yang masih lestari di daerah Minangkabau selalu menyisipkan pertunjukkan alat musik Saluang dalam susunan acara nya. Seperti saat melakukan proses Perkawinan, batagak(syukuran - red) rumah, batagakpangulu, dan lain-lain merupakanacara yang biasamenyuguhkanpermainanmusikini.Untuk pengiring dendang (nyanyian), umumnya didendangkan oleh beberapa wanita. Selain untuk memeriahkan Acara Kesenian Daerah, mengiringi pertunjukan, upacara adat, dimainkan saat memanen padi, dan objek wisata baik bagi wisatawan lokal maupun asing.

Selain kelihaian para pemainnya, dendangan saluang sendiri berisikan pesan, sindiran, dan juga kritikan halus. Dendangan tersebut dapat mengembalikan ingatan si pendengar terhadap kampong halaman ataupun terhadap kehidupan yang sudah, sedang, dan akan dijalani.

Saluang menjadi sebuah identitas dari banyaknya identitas budaya dan kesenian serta adat di Indonesia.Keberadaan alat musik Saluang, bukan saja sekedar mengenalkan alat musik nya saja, namun lebih kepada upaya menjaga budaya lokal agar tidak pupus di telan zaman.

Selain kemampuan para pemain Saluang yang ahli, nada dan dendangan Saluang banyak bermuatan pesan, pepatah,  nasihat, sampai sindiran, atau kritikan yang halus. Suara, nada atau dendangan Saluang mampu ‘menyihir’ pendengarnya untuk mengingat kembali makna hidup seorang anak manusia. Memanusiakan manusia. Memaknai kehidupan yang sudah, sedang atau telah dijalani di masa lampau. Menyiratkan arti kehidupan. Bercermin diri atas apa yang telah dilakukan atau ingin dilakukan di masa yang akan datang. Ataupun sekedar mengingatkan kembali kerinduan akan kampung halaman setelah merantau tak tentu rimba sepanjang hidup nya.

Dari berbagai sumber

Tags :


You must be logged in to comment.