Lima Film Kehidupan Kampung dan Alam di Indonesia, Curi Perhatian Dunia

Lima Film Kehidupan Kampung dan Alam di Indonesia, Curi Perhatian Dunia

2 weeks ago   |   By Franco Londah   |   25 Views

Coklatkita.com - Industri perfilman tanah air air belakangan ini semakin diakui reputasinya di mata dunia internasional, tak terkecuali di negeri sendiri. Terbukti muncul film-film yang menawarkan tema dan cerita dari sudut pandang berbeda, jarang diangkat kemuka umum meski hal tersebut sering terjadi di keseharian kita masyarakat Indonesia.

Dari beragam pandangan yang ada, latarbelakang drama kehidupan wilayah terpencil menjadi salah satunya. Film yang bercerita tentang kehidupan di perkampungan atau wilayah terpencil Tanah Air mampu menjadi sumber karya film yang epik. Penikmat film akan diberikan pengalaman paling humanis yang pernah ada. Selain tambahan, panorama indah alam Indonesia turut pula tersaji sebagai pemanis cinematografi karya anak bangsa.

Kita perlu berbangga hati, karena sebagian besar film Indonesia yang kami rangkum, sempat melanglangbuana ikut festival-festival film internasional dan mencuri perhatian dunia, misalnya saja festival film di Singapura, Prancis, Tokyo, Busan, Locarno, Venesiadan Toronto. Tak sedikit pula film Indonesia yang berhasil meraih prestasi di kancah dunia dan menyabet penghargaan dari ajang perfilman bergengsi tersebut.

Sobat coklat penasaran enggak film apa saja yang menceritakan tentang kehidupan kampung di Indonesia? Berikut ini, Info Bandung merangkum film-film  kehidupan masyarakat pelosok di Indonesia dari berbagai sumber terkait.

Para sineas muda Indonesia ini piawai dalam menggambarkan kehidupan di wilayah terpencil tanah air – bahwa di pelosok negeri pun banyak hal mampu menjadi sumber inspirasi tersendiri. Penuh daya pikat, mari disimak kelima fim berikut!

1. Turah.

foto: Wikipedia

Film ini berlatar belakang sebuah kampong nelayan di pesisir utara kota Tegal, Jawa Tengah. Isu kesenjangan social menjadi menu utama dari film karya sineas muda – Wicaksono Wisnu Legowo dan menjadi perwakilan Indonesia di ajang Oscar tahun 2018 lalu.

Film ini mengangkat kehidupan warga di Kampung Tirang, sebuah kampung yang berdiri di tanah timbul pesisir pantai Kota Tegal. Kemiskinan dan tertinggal dari wilayah – wilayah lain di Jawa Tengah. Meski dekat dengan kota Tegal, kampong ini belum tersentuh listrik. Pemerataan fasilitas warga yang tidak menunjang, bahkan kerap kali air bersih pun sulit tuk didapatkan. Wisnu dengan cermat menggambarkan rumah reot, pakaian serba lusuh, dan lingkungan kumuh dengan sangat nyata. Seolah-olah ia ingin mempertegas kepada penikmat film, kesenjangan yang benarnya hanya terjadi wilayah tersebut.

2. Ziarah.

foto: Instagram/@filmziarah

BW Purwarnegara menjadi sosok sentral film Ziarah ini terwujud. Sineas asal kota‘seni’ Yogyakarta tersebut buktinya mampu menyeruak pada event film internasional, diikuti raihan penghargaan bergengsi. Film ini mendapat dua penghargaan dari ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, lalu terpilih sebagai Film Terbaik dalam ajang Salamindanaw Film Festival 2016 di Filipina.

Film Ziarah bercerita tentang sosok Mbah Sri, beliau harus menempuh jarak jauh, menyusuri bukit dan desa-desa terpencil demi tekadnya menemukan makam suaminya, Prawiro Sahid – seorang pejuang yang diduga tewas dalam Agresi Militer Ke-2 Belanda pada tahun 1948. Selama perjalanan, ia banyak berjumpa dengan saksi sejarah masa ketika peristiwa itu terjadi, sebagian diantaranya merupakan pahlawan atau veteran perang saat melawan penjajah.

Ziarah sendiri adalah salah satu film berjenis road movie, dimana tumpuan dalam film tersebut ada pada ‘perjalanan’ sang tokoh itu sendiri. Melalui film ini, warga Bandung akan diajak melihat kehidupan warga desa Gunungkidul yang belum tersentuh modernisasi kota Yogyakarta. Hal unik lainnya, pemeran utama dalam film Ziarah bukan dari kalangan aktris yang sering muncul di layar lebar atau televisi – melainkan seorang wanita berprofesi sebagai petani berumur 95 tahun asli Gunungkidul. Ia dipilih langsung oleh Purwa untuk memerankan tokoh Mbah Sri.

3. Marlinasi Pembunuh dalam Empat Babak.

 

foto: Instagram/@cinesurya

 

Film karya Mouly Surya yang resmi dirilis di Indonesia pada pertengahan bulan November, 2018 lalu terlebih dahulu menyambangi berbagai festival film internasional, di antaranya Cannes, Selandia Baru, Toronto, Busan, Melbourne, dan Maroko. Film berjudul Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak ini kental sekali unsur tradisional, adat dan tradisi daerah kehidupan di Sumba, Nusa Tenggara Timur.  Diperankan oleh Marsha Timothy sebagai pemeran utama, Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak ini juga mendapat penghargaan sebagai film dengan scenario terbaik pada Festival International du Film deFemmesde Sale (FIFFS) di Maroko edisi ke-11. Selain itu, film ini juga meraih penghargaan Asian Nest Wavedari The QCinema Festival di Filipina.

Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak sukses mengangkat nuansa kehidupan daerah terpencil, yang masih asing dari peradaban modern. Seperti tergambarkan dalam suatu adegan, sesosok mayat yang ditutupi kain tenun dan tidak harus dikubur dalam waktu dekat. Alur tersebut didukung dengan alat music dan lagu Lahape Jodoh semakin memantapkan suasana khas Sumba.

-

Bersambung.

 

 

 

 

Tags :


You must be logged in to comment.