Menjadi “Merdeka bersama Angkatan ‘45

Menjadi “Merdeka bersama Angkatan ‘45

8 Oct 2018   |   By Franco Londah   |   338 Views

Coklat Kita - Tahun 1942 tepatnya tanggal 9 Maret, dimulainya kekuasaan di Indonesia diambil alih oleh kekaisaran Jepang, menjadi tahun yang penting dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Tidak terkecuali, kesusastraannya. Terjadi perubahan besar – besaran dan revolusi kebudayaan dimulai tahun ini.

Budaya Barat yang menyatu dengan lapisan masyarakat Indonesia dilenyapkan. Bahasa Belanda dilarang penggunaannya, baik untuk percakapan sehari – hari maupun di beragam media saat itu. Angkatan Sastra Balai Pustaka yang jelas – jelas disokong oleh Pemerintah Belanda (1920-an) dan Pujangga Baru (1930-an) berhenti, karena pihak Jepang tidak ingin ada “Budaya Barat” di Indonesia.

Sastra Indonesia, tidak sepenuhnya mati suri, muncul kepermukaan angkatan sastra baru, dengan julukan Angkatan ’45. Didahului dengan masa pertunasan (sastra zaman Jepang), banyak lahir karya – karya sastra yang sifatnya romantic realistic (berlainan dengan Angkatan Pujangga Baru, yang sifatnya romantis idealistik).

Bangsa Indonesia patut berbangga, gejolak sosial-politik-budaya yang ada pada masa tahun 1945, melahirkan banyak karya sastra besar dalam angkatan ini. Sajak – sajak Chairil Anwar, roman – roman Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, dan Achdiat Kartamihardja menjadi tonggak penting perjalanan Sastra Indonesia. Karya mereka, banyak terlahir berdasarkan pengalaman nyata sang penyair dan perjuangan meraih kemerdekaan menjadi tema yang selalu diangkat dan mendapatkan tempat dikalangan masyarakat Indonesia. Para penyair Angkatan’45 adalah golongan masyarakat menengah, terdidik dan kaum muda pada zamannya. Idealisme dan kekhassan Sastra Indonesia, dimulai dari Angkatan ini.

Kesusastraan angkatan’45, memiliki konsep seni sendiri, diberi judul “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Sebuah konsep yang menyatakan dengan tegas, kaum sastrawan Angkatan’45 ingin “merdeka” dalam berkarya di tanah air sendiri sesuai dengan suasana pada saat itu dimana setiap orang Indonesia ingin meraih  kemerdekaan. Karya sastra yang mampu menumbuhkan semangat nasionalisme dari hati nurani bangsa Indonesia.. Selain Tiga Maenguak Takdir, pada periode ini cerpen dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.

 

Sumber :

https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2017/03/biografi-sastrawan-angkatan-45-dan-karya-karyanya.html

https://linasastra.blogspot.com/2017/04/sejarah-sastra-angkatan-45.html

Sumberfoto : Sastra BudayaEkonomi

 

 

Tags :


You must be logged in to comment.